lalintas.com

Rambu ‘Dilarang Parkir’ dan ‘Dilarang Berhenti’ Yang Terus Menjadi Perdebatan

Dari sekian banyak rambu-rambu lalu lintas yang ada di jalanan, rambu Dilarang Parkir dan rambu Dilarang Berhenti (Stop) adalah kedua rambu yang kerap kali menimbulkan kerancuan bagi para pengguna jalan. Tidak sedikit pula masyarakat pengguna jalan yang belum memahami perbedaan kedua rambu tersebut.

Ironisnya, karena pemahaman yang berbeda antara polisi lalu lintas yang bertugas di lapangan dan pengguna jalan terkait sikap mereka terhadap kedua rambu tersebut, tidak jarang terjadi perdebatan. Bahkan ada diantaranya yang berakhir dengan adu mulut antara sang polisi dengan pengguna jalan tersebut.

Seperti peristiwa yang terjadi belum lama ini, di sebuah badan jalan yang terletak pada salah satu bilangan di ibukota Jakarta yang kebetulan terdapat rambu Dilarang Parkir. Terjadi perdebatan sengit antara pengemudi supir taxi dan seorang aparat kepolisian. Sang supir tetap bersikeras bahwa ia tidak parkir sembarangan, dengan alasan mobilnya hanya berhenti dalam keadaan mesin mobil tetap menyala dan ia berada di dalam mobil.

Video perdebatan antara sang supir dan polisi lalu lintas tersebut langsung viral di media sosial. Berbagai komentar miring menyudutkan petugas polisi tersebut yang dianggap tidak memahami arti rambu dilarang parkir tersebut. Ada pula komentar pedas yang menuding sang supir taxi sengaja melakukan hal tersebut sebagai alasan pembenaran atas dirinya yang sedang ‘ngetem’ di badan jalan tersebut.

Sebenarnya apa sih perbedaan antara Dilarang Parkir yang di lukiskan pada rambu lalu lintas dengan huruf P yang dicoret dan Dilarang Berhenti dengan huruf S dicoret. Mari kita lihat Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Di dalam Undang-Undang tersebut, pada Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 15, 16, dan 23 tertuang sebagai berikut :

15. Parkir adalah keadaan Kendaraan berhenti atau tidak bergerak untuk beberapa saat dan ditinggalkan pengemudinya.

16. Berhenti adalah keadaan Kendaraan tidak bergerak untuk sementara dan tidak ditinggalkan pengemudinya.

23. Pengemudi adalah orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang telah memiliki Surat Izin Mengemudi.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa perbedaan antara Parkir dan Berhenti menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ditinggalkan atau tidak ditinggalkan kendaraan tersebut oleh pengemudinya.

Dengan demikian, jelas pula filosofi Dilarang Parkir dan Dilarang Berhenti belum sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh masyarakat kita. Kedua larangan ini memiliki filosofi untuk menghindarkan suatu ruas jalan dari kemacetan yang masif atau gangguan kelancaran lalu lintas yang belakangan kerap terjadi di kota-kota besar.

Oleh karena itu, alangkah baiknya agar definisi antara Parkir dan Berhenti tersebut pada Undang-Undang Lalu lintas perlu segera dikoreksi atau dilakukan perbaikan.

Sebaiknya definisi Parkir adalah sebagai sebuah kondisi kendaraan yang tidak bergerak, mesin dimatikan atau pengemudi meninggalkan kendaraan, sedangkan Stop adalah tidak lain berhenti namun mesin tetap hidup dan pengemudi masih berada di dalam kendaraan. Dengan definisi diatas sangat memungkinkan kecilnya perbedaan persepsi mengenai arti dari rambu tersebut.

Similar News
Hujan biangnya macet?
lalintas.com
0
lalintas.com
05 December 2019
Fokus menyebabkan kecelakaan!
lalintas.com
0
lalintas.com
03 December 2019
Tips mengemudi yang aman dan benar disaat mudik.
lalintas.com
0
lalintas.com
29 May 2019